26 November 2008

Pasar Lelang Komoditi JATIM



Kemaren Saya bersama adik menghadiri Pasar Lelang komoditi Ke 51 yang diprakarsai oleh depperindag jawa timur.

Pasar lelang ini diadakan sebulan sekali, sayang baru kali ini kami bisa ikut karena ketidak tahuan kami. Bulan depan pasar lelang akan diadakan pada hari selasa tanggal 23 desember 2008.Selama ini pasar komoditi diikuti oleh peserta dari berbagai macam komoditas.Namun mulai awal 2009 insya4JJ Pasar lelang ini hanya boleh diikuti oleh komoditas agro saja.

Ini kesempatan besar, karena omzet untuk transaksi setengah hari saja kemaren, praktisnya jam 10.30 hingga jam 13.00 terkumpul transaksi senilai 7,7 Milyar. Waaoouuu. It's real. Ada foto display transaksinya yang akan saya posting jg.


Pengusaha hasil laut dari kendari SulTeng menampilkan display produk mereka, Lobster, Ikan Kerapu dll



Beliau adalah salah satu moderator Pasar Lelang. Ada 3-4 Moderator yang selalu mobile di ruangan untuk mengajak para peserta lelang untuk pro aktif dalam acara ini.




Berikut ini foto-foto produk dari beberapa peserta lelang :


Ini adalah produsen Susu kedelai bubuk

Ini produsen kripik singkong

Ini produsen ledre pisang

Ini produsen serba bisa ( kalo dibilang gak fokus nanti dikira menghina ). Beliau kadang-kadang bawa kerupuk ikan dari gresik, kali ini tas mewah produksinya sendiri. Beliau dari surabaya.

Gambar dibawah ini adalah para produsen camilan, ada juga telur asin disitu






Berikut ini adalah produsen batik dari pekalongan.






Yang dibawah ini produsen mukenah dan sajadah batik jumputan dari bojonegoro.




Kalo ini produsen sandal borci dan sepatu bordir dari kabupaten Pasuruan.




Suasana lelang terbuka bahan pokok berupa beras antara pengusaha beras dari bojonegoro dan pedagang beras dari pasar induk kramat jati jakarta.Setelah deal mereka bersalaman.



Dan akhirnya acara diakhiri. Transaksi total tercatat.......


Bravo untuk depperindag Jawa Timur atas prakarsa acara ini.
Dan bagi temen-temen produsen apa saja, terutama di bidang agro,baik di jawa timur atau propinsi lainnya bisa ikut di acara ini. Info tentang acar ini emang sangat terbatas, kami mendapatkan dari hasil bincang-bincang ringan tanpa sengaja ditawari ikut,itupun ikut delegasi dari kota lain.

Wallahu A'lam

Gresik
28 Dzul Qo'dah 1429 / 26 november 2008
On Kantor

22 November 2008

Rumah Tangga Yang Paling Dicintai......

"Rumah tangga yang paling dicintai oleh Alloh SWT yaitu rumah tangga
yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan." (HR. Ath-Thabarani
dan Asbahani).

Sampe sekarang, ada cita-cita besar yang belum dapat saya 'sentuh'. Cita-cita yang dulu pernah saya sampaikan kepada seorang sahabat pada waktu masih kuliah, dan kami berdua udah berkomitmen untuk menata jalan guna melancarkan cita-cita ini terwujud. Sahabat saya udah lebih dulu mengakses ke pintu cita-cita ini, 2 tahun setelah saya lulus kuliah, sementara saya terlena oleh dunia.

Tiba-tiba saya sedih, beberapa tetes air mata ini membasahi mata, kenapa sampe saya diberi nikmat yang luar biasa seperti ini kok masih lupa. Tapi pada siang hari ini rasa syukur tiba-tiba memuncak, sebuah tulisan teman yang telah memaksa air mata ini mengalir deras, sederas kesedihan ini, karena saya teringat atas cita-cita besar itu. Inilah tulisan yang telah membuat saya mengangkat tangan di siang hari, di sela kesibukan kantor, memohon kepada Robbul Izzati agar segera dikabulkan cita-cita ini.Sebelum kontrak hidup hamba berakhir......
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Kapan Bapak Pulang Mak?


By: Agussyafii


Ternyata saya baru tahu kalo anak-anak mendapat tugas dari mbak tien
untuk anak-anak yang ikut acara di Ragunan kemaren membuat surat
kesan-kesan selama ikut kegiatan di ragunan.

Tadi pagi ada dua surat kakak beradek yaitu Daeng Gusti Ariansyah dan
Laha Dade, adeknya. Daeng sekarang kelas 6 SD sedangkan laha dade
adeknya kelas satu. Bapaknya meninggal sejak Laha Dade belum sekolah.
Surat Laha Dade berbunyi begini.

"Nama saya Laha Dade Rizki Pamungkas. saya kelas satu SD Peninggilan
V, ciledug, Tangerang. Umur 6 tahun. Waktu bertamasya saya sangat
bergembira sekali. Disana banyak permainan yang kita kerjakan
bersama-sama teman-teman dan ibunda juga kakak asuh dan doakan ya saya
menjadi anak sholeh kepada orang tua juga berguna bagi nusa dan bangsa."

Sewaktu saya pulang dari "Smile Gathering With Anak yatim" di ragunan
kemaren bersama laha, daeng dan ibunya, terbayang wajah kecil menangis
bertanya "kapan bapak pulang mak?" terdengar jawaban, "Nanti bapak
telpon, Laha yang ngomong ya..." Suara ibunya itu meluncur begitu saja
sementara air mata terus bercucuran menatap anaknya, sampai kapan Laha
terus bertanya. "Kapan bapak pulang mak?"

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah fragmen yang menunjukan betapa seorang anak yatim adalah sosok yang HARUS kita perhatikan, bahkan ada jaminan surga dan ancaman neraka bagi yang menganggu kehidupan mereka.

Mereka sangat menunggu kita.
Mereka menjaga izzah dengan tidak meminta-minta
Mereka punya cita-cita, tapi tidak ada yang berani memberikan harapan.
Mereka juga harus sekolah, agar mereka bisa membantu dakwah islam
Namun mereka hanya punya cita-cita, jika tidak ada jalan yang dibuka untuk mereka

Lakal Hamdu 'Ala Ni'matil Islam Wal Iman
Lakal Hamdu 'Ala Kulli Hal

Dhuhur, 24 DzulQo'idah 1429 H / 22 Nov 2008
On Kantor

18 November 2008

4 Istri dalam Kehidupanku

Seorang lelaki tua renta, sedang terbaring sakit di salah satu ruangan sebuah rumah sakit mewah. Ia dikelilingi oleh 4 orang istrinya. hari itu, si laki-laki ini hendak mengutarakan sebuah wasiat, sebelum pergi meninggalkan dunia.

Mungkin bermaksud untuk berbeda dengan orang lain, pak tua ini punya keinginan untuk ditemani oleh salah satu istrinya ke alam baka. Ia menanyakan kesediaan para istrinya, untuk menemaninya menghadap Tuhan.

Ia memulai keinginannya, dengan bertanya kepada istri keempat. "Wahai istriku yang cantik. Aku sudah tua. Sebentar lagi malaikat maut akan menjemputku. Aku ingin sekali ditemani ketika menghadap Tuhanku. Maukah kau ikut bersamaku?"

Dengan nada berang, si istri keempat, yang paling muda, paling cantik, paling banyak menghabiskan waktu dan energi pak tua di luar dan di dalam rumah, sekaligus juga paling banyak menghabiskan uang, mengatakan :

”Kalau bapak ingin pergi ke luar negeri, saya pasti ikut. Kalau bapak ingin ke pesta, saya pasti ikut. Tapi maaf saja. Kalau ke alam kematian, nanti dulu ah. Mati kok ngajak-ngajak! Pergi aja sendiri!”

Dengan hati bagai diiris sembilu, pak tua kemudian bertanya lagi pada istri yang ketiga. Ia bertanya dengan pertanyaan yang sama.

”Istriku yang ketiga. Sebentar lagi, malaikat maut akan menjemputku. Bersediakah kau untuk ikut bersamaku?”

Dengan suara yang lebih lembut, istri ketiga pak tua menjawab :

”Maafkan saya, pak. Saya hanya akan menemani bapak di sini saja. Begitu ajal menjemput bapak, sampai di situ lah tugas saya menemani bapak.”

Dengan hati yang semakin hancur, pak tua menoleh ke arah istri kedua.

”Bagaimana istriku yang kedua. Maukah kau menemaniku ke alam baka?”

Inilah kata-kata yang keluar dari mulut istri keduanya :

”Maafkan saya, suamiku tercinta. Aku akan menemanimu di sini, sampai ajal menjemput. Dan jika kau sudah meninggal, menjadi tugasku pula untuk mengantar jenazahmu ke tempat pemakaman. Setelah itu, selesai tugasku sebagai istri, dan aku akan melanjutkan kehidupanku sendiri.”

Tidak ada pilihan lain. Pak tua pun memalingkan wajahnya ke arah istri pertama. Tampak lah wajah yang sangat tua, penuh keriput dan sudah pudar kecantikannya. Inilah istri yang paling lama merasakan kesusahan bersamanya. Paling sedikit dapat nafkah lahir dan bathin. Paling sedikit dapat jatah uang tetapi paling sering jadi sasaran kemarahan.

”Bagaimana istri pertamaku? Ketiga istriku yang lain tidak bersedia menemaniku menghadap Tuhan. Alangkah hancurnya hatiku, jika kau pun tidak bersedia menemaniku. Rasanya, tidak berguna segala yang sudah kulakukan selama ini.”

Berbeda dengan tiga istri sebelumnya, istri pertama menjawab dengan santun dan lemah lembut.

”Kakanda. Apapun perlakuanmu padaku di hari-hari yang telah lalu, aku akan ikut bersamamu, kemana pun kau pergi.”

Melihat kenyataan ini, pak tua kemudian berkata, "Kalau saja kutahu sejak dulu bahwa engkau lah yang akan setia menemaniku ke mana pun aku pergi, engkau lah yang paling aku perhatikan. Engkau lah yang paling kuutamakan perawatannya, melebihi ketiga istriku yang lain. Kalau saja Tuhan mengizinkanku kembali ke masa muda, takkan kubiarkan engkau jadi tampak tua dan keriput seperti ini!"

Pembaca. Cerita di atas, bukanlah cerita sebenarnya. Cerita itu hanyalah cerita rekaan, yang saya tidak tahu asal-usulnya. Berbeda dengan hadits yang perlu ditelusuri sanadnya, saya merasa tidak perlu menelusuri siapa penulis pertamanya. Yang perlu saya lakukan adalah berdo’a untuk kebaikannya, karena saya memperoleh begitu banyak hikmah dari cerita ini. Cerita ini memiliki hikmah yang sangat dalam, terutama bagi saya dan mudah-mudahan juga bagi anda, yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Setiap kita, punya 4 istri kehidupan.

Apa yang dalam cerita di atas disebut sebagai istri keempat, dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai harta dan tahta. Banyak manusia menghabiskan hampir seluruh waktu, tenaga dan pikirannya sepanjang hidup, untuk mendapatkan apa yang kita sebut sebagai harta dan tahta. Bahkan sebagian dari mereka, rela mengorbankan harga diri, kehormatan dan bahkan akidah, untuk mendapatkan harta yang banyak dan atau pangkat yang tinggi. Korupsi, menipu diri atau orang lain dan fenomena 'jilat atasan injak bawahan' adalah sedikit dari perilaku manusia pencari harta dan tahta. Sayangnya, di akhir kematian, harta dan tahta tidak akan dibawa mati. ketika anda hidup, anda boleh punya harta dan perhiasan berlimpah, rumah indah atau mobil mewah. Tapi di dalam kehidupan, belum pernah terjadi, ada mobil BMW ikut dikubur bersama pemiliknya. Belum pernah terjadi juga, sebuah apartemen dibongkar dan kemudian reruntuhannya ditanam bersama jasad pemiliknya. Bahkan pangkat dan jabatan seringkali sudah pergi ketika seseorang belum meninggal. Banyak pejabat yang kehilangan jabatan karena sakit yang terlalu lama.

Istri ketiga dalam cerita di atas adalah badan atau jasad kita. Badan kasar ini, juga banyak makan biaya. Harta hasil jerih payah, banyak digunakan untuk kepentingan badan kasar kita. Entah itu untuk konsumsi, membeli pakaian, kosmetik atau bahkan operasi plastik. Dan ketika seseorang meninggal, maka tugas jasad kasar yang dibiayai dengan harta yang banyak itu pun selesai. Tubuh yang diberi konsumsi makanan yang enak-enak, diberi pakaian indah, dilumuri kosmetik atau bahkan diubah bentuk supaya lebih menarik, sepertinya tidak ada gunanya karena cepat atau lambat harus jadi santapan cacing dan menyatu dengan tanah.

Istri kedua adalah orang-orang terdekat kita. Bisa suami, istri, anak, orang tua maupun sanak saudara. Manusia pun menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk orang-orang terdekat mereka. Sayangnya, ketika seseorang harus meninggal, orrang-orang terdekat itu hanya mengantarnya sampai ke liang kubur. Seringkali terjadi, seseorang yang kaya-raya masih sakit keras dan belum meninggal, para ahli warisnya sudah ribut memperebutkan harta warisan. Teman-teman yang ketika ia masih hidup begitu akrab dan sayang, bisa jadi adalah orang-orang yang paling keras menginjak-injak tanah kuburannya. Usai dari pemakaman, mereka pun kembali mengurus kehidupan masing-masing.

Istri pertama, sekaligus istri paling setia (baik dalam cerita tadi maupun secara umum di dunia nyata), adalah jiwa kita. Jujur saja, kita menghabiskan waktu paling sedikit untuk mengurus jiwa kita. Dalam kehidupan, sadar atau tidak, kita lebih sering menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan energi kita untuk mencari tahta dan harta, menghabiskan harta untuk mengurus jasad kasar maupun memberikan kesenangan bagi orang-orang terdekat kita. Padahal, jiwalah yang selalu bersedia menemani kita dalam suka dan duka.

Pantaslah ketika pak tua sampai pada akhir usianya, ia menemukan sang jiwa dalam keadaan kurus, tampak tua dan penuh keriput. Boleh jadi, karena sepanjang hidupnya, ia hanya menyisakan sedikit perhatian untuk memberi makanan bagi sang jiwa. Badan ia berikan makanan berupa empat sehat lima sempurna. Badan dirawat dengan mandi spa dan operasi plastik.

JIwa kita, pada dasarnya juga membutuhkan makanan. Berbeda dengan jasad kasar, jiwa membutuhkan makanan yang menyehatkan dalam bentuk amal-amal kebajikan. Orang-orang yang hidup dengan amal kebajikan, adalah orang-orang yang selalu ditemani istri pertama yang sehat, muda, cantik dan bebas keriput.

Pembaca. Ada dua tipe istri pertama dalam kehidupan setiap orang. Istri pertama yang sehat, muda, cantik dan bebas keriput dan istri pertama yang tampak tua, kurus dan penuh keriput. Istri kehidupan macam apa yang anda inginkan?

Dikutip dari warnaislam.com

dari Penulis : Zainal Abidin PHD

11 November 2008

Karimah Smeer,Hari ini Umur 2 Bulan



Semoga Menjadi anak yang solihah....Amin.

07 November 2008

Manhaj Islam Dalam Mengantisipasi Resesi

Agama (Islam) ini bukan hanya mengatur dengan hukum (syariat)-nya; tetapi juga memberi jalan atau metode (manhaj) dalam segala urusan. Termasuk dalam ekonomi

Oleh: Muhaimin Iqbal *

Kemarin (14/11/08) di Brussels European Commission memberikan peringatan bahwa secara teknis 15 negara yang menggunakan mata uang Euro telah jatuh kedalam resesi.

Menurut para ekonom definisi resesi ini adalah pertumbuhan yang minus selama dua kwartal atau lebih secara berturut-turut.

Dengan definisi tersebut, Indonesia secara teknis belum (dan mudah-mudahan tidak) mengalami resesi ini. Data BPS terakhir yang saya lihat melalui situsnya menunjukkan PDB kita tumbuh 2.4 % pada triwulan ke 2 (Quarter to Quarter) tahun ini; meningkat dari 2.1 % pada triwulan sebelumnya. Saya belum peroleh data PDB untuk triwulan ke 3, mudah-mudahan juga baik kalau keluar nanti.

Ini mungkin yang menjadi alasan otoritas negeri ini nampak tenang-tenang saja menghadapi krisis finansial global yang mulai membawa resesi ke negara-negara ekonomi kuat seperti Uni Eropa tersebut diatas.

Mudah-mudahan mereka tahu apa yang kita tidak tahu, dan mudah-mudahan pula apa yang mereka ketahui (yang kita tidak tahu tersebut) adalah hal yang menyenangkan dan membawa kebaikan pada negeri ini.

Orang awam seperti saya (mungkin karena ketidak tahuan saya) hanya bertanya-tanya; apa iya sih negara-negara ekonomi kuat seperti Uni Eropa saja pada berjatuhan ke lembah resesi – sedangkan kita yang lebih banyak berhutang & lebih banyak membutuhkan investor dari luar – aman-aman saja ?.

Padahal kita juga tahu sebagian pemberi hutang dan investor kita juga datang dari negara-negara yang mengalami resesi tersebut !.

Ok, resesi atau tidak – tidak perlu kita permasalahkan. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mempersiapkan diri agar kita siap mengahadapi situasi ekonomi yang buruk kedepan – kalau ini harus terjadi.

Alhamdulillah kita punya tuntunan yang sempurna, yang kesempurnaannya dinyatakan sendiri oleh Pencipta kita dalam firmanNya “…… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” [QS 5:3].

Sebagai tuntunan yang sempurna, agama ini bukan hanya mengatur dengan hukum (syariat)-nya; tetapi juga memberi jalan atau metode (manhaj) dalam segala urusan.

Dalam menghadapi paceklik modern – krisis finansial global misalnya, kita bisa mengikuti manhaj nabi Yusuf yang diceritakan dengan sangat Indah dalam Al-Quran; petikannya :

“Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.” [QS Yusuf : 47-49]

Kunci mengantisipasi paceklik menurut ayat tersebut adalah gandum yang disimpan dan dibiarkan dibulirnya. Mengapa demikian ?; karena gandum yang dibiarkan dalam bulirnya akan awet tersimpan, tidak busuk dan ketika ditanam lagi sebagai bibit – dia tidak kehilangan daya tumbuhnya.

Panenan umat jaman ini bukan gandum, tetapi bagi yang bekerja bisa saja berupa gaji, bonus, tantiem dlsb. Bagi negara panenan ini bisa berupa minyak bumi, hasil hutan, hasil tambang, hasil laut dlsb.

Bagi individu mengatisipasi krisis dapat dilakukan dengan mengkonsumsi sebagian yang kita hasilkan, menggunakan uang kertas untuk konsumsi jangka pendek, dan menyimpan sebagiannya di ‘bulirnya’ – yaitu aset lain yang tidak mengalami penurunan nilai. Dinar emas adalah salah satunya.

Bagi negara, mengantisipasi krisis dapat dilakukan dengan mengerem konsumsi sumber daya alam – meningkatkan kemampuan mengolah hasil bumi, hasil laut , hasil hutan, hasil pertanian dlsb. Sampai kebutuhan sandang, pangan dan papan semaksimal mungkin tercukupi dalam negeri.

Bagi negara juga jangan menukar aset riil yang sebenarnya tidak mengalami penurunan nilai (minyak , gas dan hasil tambang lainnya misalnya), dengan aset yang mudah busuk nilainya seperti US$ dan berbagai mata uang asing lainnya.

Mudah kah ini diimplementasikan di jaman sekarang ?. Mungkin tidak mudah memang kalau kita berpikir secara sekuler; tetapi kalau kita sudah berniat sungguh-sungguh untuk mengambil jalan yang sesuai kehendakNya dan dicontohkanNya – maka insyaallah semua akan dimudahkanNya. Wallahu A’lam.

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar. Tulisan ini adalah hasil kerjasama www.geraidinar.com dan www.hidayatullah.com

31 October 2008

Kekuatan Al-qur'an

Kekuatan Itu Ada Pada Al Qur’an

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

dakwatuna.com - “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra’: 85)

Terdapat lebih dari 19 ayat yang menyebut kata “ruh” dalam Al-Qur’an. Maksud yang terkandung dari istilah ini tidak keluar dari arti malaikat Jibril yang biasanya ditambah dengan istilah Ruhul Quds atau Ar-Ruhul Amin dan maksud yang kedua adalah Al-Qur’an. Dan hanya satu ayat yang bermaksud roh dalam arti yang sebenarnya, yaitu pada ayat ini. Meskipun demikian terdapat juga ulama tafsir seperti yang dinukil oleh Imam Al-Qurthubi yang memahami ruh dalam arti analogis yaitu Al-Qur’an. Maka pengertian ayat ini menurut Al-Qurtubi secara analogis adalah:

“Dan mereka bertanya, “Darimanakah Al-Qur’an yang di tanganmu ini?”. “Katakanlah: Sesungguhnya ia diturunkan sebagai mukjizat atas perintah Allah swt.”

Analogi kedua makna ini sangat jelas. Roh merupakan alat kehidupan manusia secara fisik materil. Manakala Al-Qur’an adalah roh yang bisa memberi kekuatan dan kehidupan manusia secara psikologis ruhiyah. Hal ini bertepatan dengan ungkapan Malik bin Dinar tentang roh Al-Qur’an:

“Wahai Ahlul Qur’an!, apa yang telah ditanam oleh Al-Qur’an ke dalam lubuk hatimu?. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah penyubur hati sebagaimana hujan yang menyuburkan bumi.”

Dalam konteks ruh yang memiliki pengertian Al-Qur’an, terdapat empat ayat membahasnya, yaitu surah An-Nahl: 2, Ghafir: 15, Asy-Syura: 52 dan Surah Al-Isra’: 58 yang dipahami secara analogis. Tentunya, penamaan Al-Qur’an dengan ruh bukan kebetulan dan tanpa hikmah yang perlu digali oleh hamba-Nya yang merindukan keberkahan dan kekuatan dari Al-Qur’an, seperti juga nama dan sifat lain yang dimiliki oleh Al-Qur’an yang mencerminkan fungsi dan perannya yang komprehensif dan universal. Betapa hanya Al-Qur’an yang bisa diandalkan menyelesaikan masalah kemanusiaan dalam segala bentuknya.

Sayyid Qutb menyatakan pandangannya tentang penamaan Al-Qur’an dengan ruh berdasarkan firman Allah: “(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang memberi ruh dengan (membawa) perintahNya kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Ghafir: 15) bahwa ini merupakan kinayah tentang wahyu. Redaksi yang digunakan dalam ayat ini mengisyaratkan dua hal: pertama, bahwa wahyu (Al-Qur’an) adalah ruh dan kehidupan bagi manusia, tanpa ruh ini manusia tidak akan bisa hidup dengan baik dan benar. Kedua, bahwa wahyu itu turun dari tempat yang tinggi kepada siapa yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Redaksi ini bertepatan dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Selanjutnya beliau juga menafsirkan ruh dalam ayat-ayat ini sebagai sebuah kekuatan yang menggerakkan, mempertahankan kehidupan di dalam hati, bahkan di dalam kehidupan nyata sehari-hari.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

Kekuatan besar dari sentuhan Al-Qur’an ini dirasakan benar oleh para sahabat Rasulullah karena memang mereka menerima Al-Qur’an ini dengan segenap hati, pikiran dan kemauan mereka. Seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thobroni dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa ia berkata:

“Ketika turun surah Az-Zalzalah, maka serentak Abu Bakar yang sedang duduk waktu itu menangis. Maka Rasulullah saw. pun menghampirinya dan bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis wahai Abu Bakar?”. Surah inilah yang membuat aku menangis”. Maka Rasulullah menenangkan dengan sabdanya:

“Jika kalian tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka Allah akan menciptakan kaum lain yang mereka itu melakukan salah dan dosa kemudian mereka bertaubat dan Allah mengampuni mereka.”

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Hanthob bahwa Rasulullah saw. pernah membacakan surah ini dalam satu majlis di mana seorang Arab Badui ikut serta duduk bersama. Setelah mendengar ini, lelaki itu lantas keluar sambil menyesali dirinya “alangkah buruknya aku”. Maka Rasulullah mengatakan kepada para sahabatnya, “sungguh iman telah masuk ke dalam hati lelaki badui tadi.”

Maka sangat tepat ungkapan Dr. Yusuf Al-Qaradlawi yang menegaskan bahwa:

“Al-Qur’an adalah “ruh Rabbani” kekuatan Rabbani yang akan mampu menghidupkan dan menggerakkan akal fikiran dan hati. Sebagaimana Al-Qur’an juga undang-undang Allah yang mengatur kehidupan manusia sebagai individu dan bangsa secara kolektif.”

Syekh Muhammad Al-Ghazali menyebutkan:

“Al-Qur’an inilah kitab yang membentuk jiwa, membangun umat dan kebudayaan mereka. Inilah sesungguhnya kekuatan Al-Qur’an. Namun yang sangat disayangkan bahwa cahaya ini tidak nampak di depan umat Islam karena mata-mata mereka sudah tertutup sehingga aib dalam konteks sekarang ini bukan aib Al-Qur’an, tetapi aib pandangan manusia yang lebih mengagungkan kekuatan lain selain Al-Qur’an. Padahal Allah sudah berfirman, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan, dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16)

Karenanya esensi seluruh perintah dan petunjuk Al-Qur’an adalah dalam rangka memelihara kehidupan manusia, baik secara fisik maupun psikis. Tanpa panduan dan pedoman ini, kehidupan manusia semakin tidak menentu dan jelas arahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)

Kekuatan lain yang seharusnya kita sadari dari Al-Qur’an yang mulia ini bahwa Al-Qur’an merupakan sistem hidup yang mengarahkan orang-orang yang beriman untuk mewujudkan kehidupan dalam bingkai keimanan. Sebuah hakikat kehidupan yang meliputi segenap komponen yang ada pada diri manusia; menghidupkan fisik, perasaan, getaran jiwa, kemauan, pikiran dan kehendaknya.

“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (Yaasin: 70)

Ibnu Qutaibah dalam kitab “Tafsir Gharibil Qur’an” memahami kalimat “Hayyan” di dalam ayat ini dengan pengertian seorang mukmin yang hidup karena memperoleh petunjuk Allah swt. demikian juga dengan firman Allah swt.:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 122).

Yang dimaksud dengan orang yang hidup dalam ayat ini adalah orang yang beriman dan orang yang mati adalah orang kafir. Makanya Allah membedakan keduanya dengan menggunakan istilah ini juga di dalam firman-Nya: “Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.” (Fathir: 22)

Sesungguhnya, berbagai ujian yang mengejutkan bangsa ini semakin membuktikan hakikat yang tidak terbantahkan akan kelemahan manusia dan hajat mereka akan pertolongan Allah swt. bahwa sesungguhnya sumber kekuatan satu-satunya adalah Allah yang menciptakan segalanya dan kita akan meraih kekuatan itu dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber kehidupan dan kekuatan kita.

Sekali lagi, Allah swt. mengingatkan kita akan kekuatan Al-Qur’an.

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” (An-Nahl: 2)

Memang sudah saatnya bagi kita untuk menerima Al-Qur’an dengan segenap perasaan, pikiran dan kehendak kita dan tidak mengharap atau menggantungkan kekuatan lain di luar dari kekuatan firman-Nya.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16).

Selama kita masih mengharap datangnya kekuatan lain, maka selama itu pula kita tidak akan meraih kehidupan yang mulia di bawah bimbingan dan naungan Al-Qur’an.

Pengantin Surga

Sekuntum “Cinta” Pengantin Syurga
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi

dakwatuna.com - “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,” Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.

Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.

Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha’. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.

Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.

Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.

Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…

Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.

Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak ’anugerah’ Allah yang terindah ini.

Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang ’back street’ tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.

Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa ’diikhtiarkan’ maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:

”Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.”

Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.

“Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.”

Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.

Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.

“Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan.” Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.

Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada ’Sang Pemilik Cinta’. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.

Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.

Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.

Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.

Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.

“Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?” Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.

Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:

Kasih…

cinta yang terindah adalah mencintaimu,

sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.

Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu

burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.

Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”

Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:

Aku berada dalam kenikmatan

dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir

berada dalam syurga abadi yang dijaga

oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa

yang akan menunggu kedatanganmu,

wahai kekasih…

“Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!” Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya

“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku!” jawab si gadis kekasihnya itu.

“Bilakah aku dapat melihatmu kembali?” Tanya si pemuda menegaskan

“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari,” Jawab kekasihnya.

Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.

Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).

dari Raja’ bin Umar An-Nakha’i dll.

Dunia Tanpa Inflasi dan Deflasi, Mungkinkah ?

Krisis financial global yang sedang terjadi ini bagaikan sandwich. Dibawahnya inflasi dan diatasnya deflasi, kita berada ditengahnya

Oleh: Muhaimin Iqbal

Ini berawal dari sumber malapetaka dunia – Amerika Serikat. Mulanya kasus Bear Stearns yang menjadi pemicu bertambahnya supply uang US$ 150 milyar. Kemudian Fannie Mae & Freddy Mac US$ 200 Milyar ( berpotensi US$ 500 milyar). Kemudin lagi kasus-kasus Lehman Brothers, Mery Lynch, AIG yng semuanya mendorong penambahan jumlah uang hingga US$ 700 milyar.

Bahkan para ekonom sepakat ini belum berakhir, final bailout nanti bisa berkisar antara US$ 2 trilyun – US$ 5 trilyun.

Menurut Mary Anne & Pamela Aden dari Aden Forecast (www.adenforecast.com) akan ada jeda waktu sekitar 1 tahun antara proses money creation dan inflasi; jadi menurut mereka sekitar satu tahun dari sekarang akan terjadi Hyperinflasi yang luar biasa di Amerika yang dipicu oleh money creation dari serangkaian bail-out tersebut diatas.

Kalau mimpi buruk hyperinflasi tersebut tidak terjadi maka masih menurut Aden Forecast deflasi-lah yang akan terjadi. Ini akan terjadi bila ketakutan bank-bank di Amerika untuk menyalurkan kredit berlangsung terus.

Kalau yang kedua ini yang terjadi, maka dunia akan kesulitan likuiditas, industri bisa macet, lapangan kerja semakin menghilang dan berbagi mimpi buruk lainnya juga menjelma menjadi kenyataan.

Rupanya Bush ingin memperbaiki rapotnya sekarang dengan meninggalkan bom waktu bagi siapapun penggantinya.

Mana saja dari kedua hal tersebut terjadi, dampaknya akan sampai ke Indonesia seperti yang kita alami selama ini.

Lantas apa yang bisa kita lakukan ?.

Pertama istigfar seperti tulisan saya bulan lalu, kemudian mengikuti tuntunan Al-Quran dalam mengantisipasi paceklik global yang antara lain dicontohkan di Surat Yusuf 47-48.

Kedua, langkah konkrit berikutnya adalah hijrah dari mata uang yang tidak adil ke mata uang yang adil dan stabil sepanjang jaman yaitu Dinar dan Dirham.

Apa benar dengan mata uang Dinar, mimpi buruk sperti Inflasi dan Deflasi tersebut tidak terjadi ?.

Untuk Inflasi, sejarah telah membuktikannya. Seandainya uang Dinar mengalami inflasi 1 % saja pertahun, maka harga kambing sekarang akan setara dengan 1 Dinar x (1+0.01)^1400 = 1,121,820 Dinar !,

Tetapi karena realitanya harga kambing sekarang adalah sama dengan harga kambing di jaman Rasulullah SAW yaitu 1 Dinar, maka inflasi Dinar selama 1400 tahun adalah 0.00% yaitu 1 Dinar (1+0.00)^1400 = 1 Dinar !.

Bagaimana dengan deflasi ?; penggunaan Dinar harus dipahami dan dijalankan mengikuti syariah Islam; khususnya yang terkait erat dengan supply uang ini adalah larangan menimbun.

Emas tersedia cukup untuk seluruh umat manusia karena laju pertumbuhannya berkisar 1.5% - 4.0% pertahun; sementara pertambahan jumlah penduduk dunia hanya sekitar 1.2% pertahun.

Emas menjadi tidak cukup digunakan sebagai uang apabila ada yang menimbunnya – inilah mengapa Allah sangat mengancam orang-orang yang menimbun emas (yang berarti juga menimbun harta lainnya). (QS 9 :34-35)

Jadi sangat mungkin (bahkan sudah seharusnya) kita bisa hidup di jaman yang bebas Inflasi dan Deflasi - kalau mau kembali ke tuntunan kita yaitu Al-Quran dan Sunnah RasulNya. Bahkan ada jaminan kita tidak akan tersesat selamanya selama kita berpegang pada Al-Quran dan Sunnah RasulNya.

Masih kah kita akan berpegang pada pegangan yang lain yang akan menjepit kita bagaikan sandwich ?. Masihkah kita percayai system keuangan spekulatif ribawi yang diperkenalkan dunia Barat – yang di negaranya sendiri menjadi pangkal bencana ?.

Sudah aku sampaikan Ya Allah..., sesungguhnya Engkau maha menyaksikan.

Penulis Direktur Gerai Dinar. Tulisan ini adalah hasil kerjasama www.geraidinar.com dan www.hidayatullah.com

29 October 2008

45 Mitos dan Fakta Seputar ASI

Sebuah artikel menarik dan sangat penting, untuk kesehatan dan masa depan anak-anak kita.

-----------------------------------------------------------------------------------------------
45 Mitos dan Fakta Seputar ASI


Kekhawatiran bahwa menyusui akan menyebabkan payudara kendur, hanyalah sebuah mitos yang tak terbukti kebenarannya. Presenter Sophie Navita, yang menyusui kedua anaknya mengatakan, mitos tersebut tidak benar. Payudara kendur, kata Sophie, karena kehamilan yang menyebabkan perubahan hormon.

"Payudara memble, itu karena hamil dan perubahan hormon bukan karena menyusui. Kalau nggak mau memble, ya jangan hamil," ujar Sophie dalam Obrolan Santai "Kembali ke ASI, Sebuah Pilihan Bijak", di Senayan City, Jakarta Selatan, Sabtu (9/8) sore.

Dalam sebuah buku panduan yang diperbanyak oleh World Vision Indonesia, disebutkan 45 mitos dan fakta tentang ASI. Ingin tahu? Inilah mitos (M) dan fakta (F) tersebut

*M : Menyusui menyebabkan payudara kendur. F : Payudara kendur disebabkan oleh bertambahnya usia dan kehamilan.
*M : Payudara yang berukuran kecil, tidak dapat menghasilkan banyak susu. F : Payudara kecil maupun besar sama-sama dapat menghasilkan banyak susu.
*M : Payudara dengan puting terbenam tidak dapat menyusui. F : Puting terbenam tidak berarti tidak dapat menyusui, karena bayi menyusu pada payudara, bukan pada puting.
*M : ASI pertama (yang berwarna kekuningan) tidak baik bagi bayi. F : ASI pertama (kolostrum) adalah zat terbaik bagi bayi.
*M : Kolostrum / ASI pertama adalah susu basi. F : Kolostrum mengandung zat kekebalan tubuh dan protein yang sangat kaya.
*M : ASI eksklusif berarti tidak boleh memberikan makanan, yang lain boleh. F : ASI ekslusif berarti hanya memberikan ASI saja, yang lain tidak boleh.
*M : ASI eksklusif berarti tidak boleh memberikan susu formula, lainnya boleh. F : ASI eksklusif berarti hanya boleh memberikan ASI saja, yang lain tidak boleh.
*M : ASI eksklusif tidak dapat dilakukan jika ibu bekerja. F : Ibu bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif.
*M : Hingga usia 6 bulan, ASI saja tidak cukup bagi bayi. F : Semua kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan terpenuhi oleh ASI saja.
*M : Pisang dapat menyembuhkan diare pada bayi. F : Makanan padat tidak dapat diolah oleh usus bayi hingga usia 6 bulan.
*M : Pisang dapat membersihkan usus bayi. F : Pisang tidak dapat membersihkan usus bayi melainkan merusak, karena usus bayi belum sanggup mengolah makanan hingga usia 6 bulan.
*M : Susu formula sama baiknya dengan ASI. F : Tidak ada cairan lain apapun yang dapat menggantikan ASI.
*M : Susu formula membuat bayi lebih sehat. F : Hanya jika diberikan ASI eksklusif sampai 6 bulan yang membuat bayi lebih sehat.
*M : Untuk perkembangan otak, susu formula lebih baik daripada ASI. F : ASI mengandung AA/DHA yang sangat penting bagi pertumbuhan otak.
*M : Kombinasi ASI dan formula adalah yang terbaik bagi bayi. F : Yang terbaik bagi bayi hingga usia 6 bulan adalah hanya menerima ASI saja.
*M : Jika ASI belum atau tidak lancar dapat digantikan dengan susu formula. F : Jika ASI belum atau tidak lancar, bayi masih memiliki daya tahan tubuh (tidak akan kelaparan) hingga 2x24 jam sejak lahir, yang dibawa sejak dalam kandungan.
*M : Jika ASI belum keluar, tidak ada gunanya menyusui bayi. F : Jika ASI belum atau tidak lancar, bayi masih memiliki daya tahan tubuh (tidak akan kelaparan) hingga 2x24 jam sejak lahir, yang dibawa sejak dalam kandungan.
*M : Sementara ASI belum keluar, bayi dapat diberikan susu formula atau madu. F : Pemberian makanan lain selain ASI meningkatkan risiko terganggunya usus bayi yang masih belum siap.
*M : Agar bayi tidak kuning dan tidak demam, dapat diberi makanan atau minuman lain sebelum ASI keluar. F : Bayi yang kuning harus banyak menerima sinar matahari pagi dan lebih sering diberi ASI.
*M : Jika bayi terus menangis berati ASI-nya kurang. F : Bayi menangis belum tentu lapar.
*M : Ibu yang banyak minum susu, akan menghasilkan banyak ASI. F : Banyaknya ASI yang dihasilkan tidak dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang dikonsumsi ibu. Semakin sering bayi menyusu semakin banyak ASI yang dihasilkan.
*M : Agar menghasilkan banyak ASI, Ibu harus banyak makan sayuran. F : Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak ASI yang dihasilkan.
*M : Jika ibu sakit, bayi akan tertular melalui ASI. F : Ketika sakita, tubuh ibu membuat zat kekebalan tubuh yang juga disalurkan kepada bayi melalui ASI sehingga bayi tidak akan sakit.
*M : Ibu yang kurang vitamin tidak dapat menyusui bayinya. F : Ibu yang kurus sekalipun tetap dapat menghasilkan banyak ASI asalkan sering menyusui.
*M : Menyusui tidak boleh dilakukan sambil berbaring. F : Menyusui dapat dilakukan sambil berdiri, duduk ataupun berbaring.
*M : Bayi yang sedang sakit tidak boleh disusui. F : Bayi yang sedang sakit harus lebih sering diberi ASI.
*M : Pemberian air kepada bayi baru lahir hingga usia 6 bulan tidak akan merugikan. F : Pemberian air kepada bayi baru lahir hingga usia 6 bulan hanya akan memenuhi perut bayi sehingga mengurangi ruang untuk ASI yang sangat dibutuhkan bayi.
*M : Bayi baru lahir perlu diberikan air teh agar memiliki tenaga. F : Pemberian air teh kepada bayi baru lahir hingga usia 6 bulan hanya akan memenuhi perut bayi sehingga mengurangi ruang untuk ASI yang sangat dibutuhkan bayi.
*M : Setelah melahirkan, ibu terlalu lelah untuk dapat menyusui bayi. F : Kecuali dalam situasi darurat, ibu yang baru melahirkan mampu menyusui bayinya segera, memeluk dan menyusui bayi adalah penghilang sakit dan rasa lelah ibu.
*M : Bayi baru lahir tidak dapat menyusu sendiri. F : Bayi memiliki naluri kuat untuk mencari puting dalam satu jam pertama setelah lahir.
*M : ASI belum keluar pada hari pertama setelah melahirkan. F : Meskipun tidak terasa, kolostrum (ASI pertama), akan keluar langsung setelah kelahiran. Jumlahnya sedikit, tapi cukup untuk kebutuhan bayi.
*M : Tidak ada gunanya menyusui bayi sejak kelahirannya. F : Kolostrum adalah cairan yang kaya dengan zat kekebalan tubuh dan zat penting lain yang harus dimiliki bayi. Bayi yang menyusui langsung akan merangsang ASI cepat keluar.
*M : Bayi harus dibungkus dan dihangatkan dibawah lampu selama dua jam setelah lahir. F : Bayi bukan anak ayam. Kehangatan terbaik bagi bayi diperoleh melalui kontak kulit bayi ke kulit ibu, karena kehangatan tubuh ibu dapat menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Kontak kulit bayi ke kulit ibu membuat ASI semakin cepat keluar.
*M : ASI pertama/kolostrum sangat sedikit, sehingga bayi lapar dan menangis. F : ASI pertama memang sedikit, tapi cukup untuk memenuhi perut bayi yang hanya dapat diisi sebanyak 4 sendok teh.
*M : Bayi menangis, pasti karena lapar. F : Bayi menangis bisa diakibatkan karena merasa tidak nyaman, merasa tidak aman, merasa sakit, dan sebagainya, belum tentu lapar.
*M : Bayi menangis karena lapar perlu diberi makanan atau minuman lain. F : Jika bayi lapar, beri ASI lagi. Sering-sering diberi ASI tidak akan membuat bayi lapar.
*M : ASI yang penting hanyalah cairan yang berwarna putih. F : Kolostrum/ASI pertama (kekuningan/tidak berwarna) adalah ASI yang paling penting untuk memberikan kekebalan kepada bayi. ASI yang berwarna putih adalah yang paling penting untuk kebutuhan bayi sampai 6 bulan pertama.
*M : Bayi kedinginan sehingga perlu dibedong. F : Bayi baru lahir memang mudah kedinginan, sehingga perlu dipeluk kontak kulit ke kulit, diberi topi, lalu ibu bersama bayi diselimuti. Bedong bayi terlalu ketat akan membuatnya lebih kedinginan.
*M : Kurang tersedia tenaga kesehatan sehingga bayi tidak dapat dibiarkan menyusu sendiri. F : Suami atau anggota keluarga ibu dapat membantu Inisiasi Menyusu Dini.
*M : Kamar bersalin atau kamar operasi sibuk sehingga bayi perlu segera dipisah dari ibunya. F : Sementara sibuk, ibu bisa melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
*M : Ibu harus dijahit sehingga bayi perlu segera dipisah dari ibunya. F : Sementara dijahit, ibu tetap dapat melaksanakan IMD.
*M : Bayi perlu diberikan suntikan vitamin K dan tetes mata segera setelah lahir. F : Benar, tapi dapat ditunda selama 1 jam hingga bayi selesai menyusu awal.
*M : Bayi harus segera dibersihkan setelah lahir. F : Ditunda 1 jam tidak akan mengubah berat dan tinggi bayi.
*M : Tenaga kesehatan belum sependapat tentang pentingnya memberi kesempatan IMD pada bayi yang lahir dengan operasi caesar. F : Mungkin, tapi adalah tugas orangtua untuk membela hak sang bayi. Tenaga kesehatan dapat diberi penjelasan, dan suami atau anggota keluarga dapat membujuk agar bayi dibiarkan untuk IMD.
*M : Ibu belum bisa duduk/duduk miring untuk memberikan ASI. F : Siapa yang mengharuskan duduk? Bayi dapat menyusu pada saat tengkuran di dada ibu.

Diambil dari Kompas.com

20 October 2008

Kemana Hilangnya Liquiditas [ Uang Kertas ] ???

Bank-bank dan lembaga keuangan besar berjatuhan. Rata-rata karena kesulitan likwiditas. Kemana hilangnya uang kertas?

Oleh: Muhaimin Iqbal *

Ini adalah pertanyaan awam yang muncul hampir di seluruh dunia sekarang menyangkut banyaknya bank-bank dan lembaga keuangan besar yang berjatuhan. Bank-bank dan lembaga keuangan tersebut berjatuhan rata-rata adalah karena kesulitan likwiditas.

Mengapa kesulitan likwiditas ini berlaku serentak ? bukankah namanya likwiditas seharusnya menyerupi sifat air (liquid = cairan ) yaitu kalau tidak ada di suatu tempat (bank) mestinya mengalir ketempat (bank) lain ?, kenapa krisis likwiditas selalu serentak/bersamaan...?.

Logika awamnya memang demikian, tetapi bukan logika awam ini yang berlaku di dunia perbankan dan keuangan global.

Mayoritas likwiditas dunia perbankan adalah bukan dari uang seperti yang kita kenal uang kertas dan uang logam , tetapi dari uang bank yang dihasilkan melalui suatu proses penciptaan uang (money creation) nan canggih dalam sebuah system perbankan yang disebut Fractional Reserve Banking.

Berikut illustrasinya :


Asumsikan Anda punya uang Rp 1 Milyar dan Anda taruh di Bank A, maka sebagai contoh di Indonesia Bank A hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 50 juta. Selebihnya Rp 950 juta oleh Bank A dapat dipinjamkan ke Bank B. Karena bank B juga hanya wajib mencadangkan 5%-nya atau Rp 47.5 juta, maka dari uang pinjaman tersebut bank B dapat meminjamkan lagi ke Bank C sebesar 95%nya tau Rp 902.5 juta. Bank C kemudian meminjamkannya lagi ke Bank D, D ke E dst-dst.

Secara teoritis uang yang tadinya hanya Rp 1 Milyar melalui Fractional Reserve Banking dengan minimum reserve 5 % berpotensi menghasilkan likwiditas berupa uang bank yang besarnya 20 kali lipat atau Rp 20 Milyar.

Dampak sebaliknya juga terjadi, bila Rp 1 Milyar uang Anda tersebut Anda tarik dari Bank A – maka seluruh system perbankan berpotensi kehilangan likwiditas bukan hanya Rp 1 Milyar melainkan Rp 20 Milyar uang bank yang tercipta melalui system perbankan yang ‘brilliant’ yang disebut Fractional Reserve Banking tersebut !.

Bayangkan kalau banyak orang yang mempunyai uang seperti Anda menarik uangnya rame-rame dari perbankan, pastilah bank yang sekuat apapun akan collapse.

Jadi yang terjadi dalam krisis likwiditas global sekarang bukan karena likwiditas mengalir dari satu tempat ke tempat lain – seperti mengalirnya air, melainkan likwiditas yang tadinya memang tidak ada atau hanya ‘semu’ kembali menjadi tidak ada.

Selama system perbankan mengadopsi system Fractional Reserve Banking maka kebangkrutan satu bank akan selalu menyeret seluruh industri perbankan. Atas alasan ini negara-negara di dunia selalu mati-matian menyelamatkan Bank yang lagi bermasalah, karena kalau tidak diselamatkan dampak yang lebih buruk akan terjadi.

Inilah bedanya system keuangan perbankan ribawi dengan system Dinar. Dalam system keuangan ribawi – perbankan selalu menjadi awal musibah atau penyebab dalam setiap krisis; ingat krisis di Indonesia 97/98 dan juga krisis di Amerika saat ini.

Sebaliknya dalam sejarah keuangan berbasis Dinar, Sharf (tempat penukaran uang Dinar di zaman kekhalifahan) sering bertindak menyelamatkan negara dengan memberi pinjaman pada negara pada saat negara mengalami krisis keuangan karena perang dlsb.

Kalau sekarang saya tawarkan system Dinar untuk mengatasi krisis keuangan global yang sedang terjadi....maka para ekonom yang canggih-canggih akan mentertawakan saya; tetapi karena solusi ribawi yang mereka cari just not exist ... maka hanya waktu-lah yang akan membuktikan bahwa ketika kepepet tidak ada solusi lain – manusia akan selalu kembali ke solusi yang fitrah.

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS 31:32).

Penulis Direktur Gerai Dinar. Tulisan ini adalah hasil kerjasama www.geraidinar.com dan www.hidayatullah.com

10 October 2008

Membangun Logika Baru untuk Sukses dari Belief Negatif

Judul Artikel dibawah ini agak berat, tapi cobalah untuk membaca pelan-pelan, insya4JJ ada hal positif yang bisa kita dapatkan.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebagai kado Lebaran kali ini saya menuliskan sebuah artikel yang akan sangat berguna untuk menyongsong lembaran baru kehidupan Anda. Marilah kita sama-sama memanfaatkan momen yang bagus ini untuk mempersiapkan diri mengalami perubahan diri. Menjadi individu yang lebih baik, menjadi pasangan yang lebih baik, dan menjadi orangtua yang lebih baik serta menjadi sahabat yang lebih baik.

Pernahkah Anda mendengar seseorang mengatakan “Hmmm tampaknya saya tak mampu menjadi agen asuransi yang baik, buktinya sudah dua bulan ini target tak tercapai” atau mungkin sebagai orangtua Anda pernah mengatakan dalam hati “Ahh, mendidik anak memang sulit, buktinya mereka sulit sekali menurut sama saya tapi kalau sama orang lain lebih menurut” dan masih banyak belief negatif lainnya.

Semua belief negatif tadi seakan-akan sangat logis karena didukung oleh serangkaian bukti nyata yang memperkuat hal tersebut. Dan begitu kita meyakinkan diri kita dengan serangkaian fakta tersebut maka hal tersebut menjadi sebuah program yang makin memperkuat belief negatif kita. Belief tersebut menancap makin dalam di pikiran bawah sadar kita.
Satu pertanyaan yang akan menggelitik kita semua : jika pikiran bawah sadar kita bisa diyakinkan menerima belief negatif dengan sebuah fakta nyata yang logis mungkinkah kita melakukan hal yang sama untuk belief positif?

Jawabannya tentu bisa ! Bagaimana caranya? Sederhana saja. Kita tinggal mengurutkan proses logika berpikir kita dan kemudian dengan kekuatan self talk yang terjadi selama proses mengurutkan belief tersebut maka kita akan menembus homeostasis dan psikosklerosis perlahan namun pasti.

Kunci sukses untuk melakukan hal ini adalah menuliskannya dengan sungguh-sungguh dan bekerja dengan kejernihan pikiran. Tuliskan saja apa yang muncul di pikiran dalam satu kalimat singkat dan padat dan ikuti saja langkahnya. Saya sering menggunakan teknik ini untuk membantu diri saya sendiri dan ratusan anak beserta orangtuanya dengan sukses dalam ruang terapi maupun dalam sebuah pelatihan. Tentunya settingnya agak berbeda sedikit jika saya melakukannya dalam ruang terapi namun intinya tetaplah sama.

Baik marilah kita mulai 7 langkah super melogikakan belief negatif dan mengubahnya menjadi roket pendorong sukses.
? Langkah 1 : Tuliskan satu impian Anda yang penting dan bayangkan impian tersebut telah tercapai. Tuliskan bagaimana perasaan Anda saat membayangkan impian tersebut telah tercapai.
Contoh : saya merasa berharga dan gembira luar biasa dengan keberhasilan saya menjadi seorang terapis keluarga
Sekarang giliran Anda : Saya merasa …………………………………

? Langkah 2 : Nyatakan keinginan terdalam Anda berkaitan dengan impian tersebut
Contoh : saya memiliki keinginan terdalam untuk membantu banyak keluarga menjadi lebih baik dengan apa yang saya alami dan pelajari
Sekarang giliran Anda : saya memiliki keinginan terdalam untuk …………………………

? Langkah 3 : Nyatakan belief negatif yang Anda rasaka menghambat dalam kaitannya untuk mencapai impian tersebut
Contoh : Belief negatif yang menghambat saya adalah pekerjaan itu menyita waktu saya dengan keluarga
Sekarang giliran Anda : Belief negatif yang menghambat saya adalah ……………………..

? Langkah 4 : Nyatakan lawan dari belief negatif yang tertulis di langkah 3
Contoh : Keluarga saya ingin saya bahagia dan mendukung saya mencapai impian saya
Sekarang giliran Anda : ……………………………………..

? Langkah 5 : Nyatakan apa yang membuat Anda merasakan hidup ini akan terisi penuh. Inilah yang akan menjadi tujuan Anda
Contoh : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya membuat sebuah pelatihan sistematis untuk mengajarkan bagaimana membangun keluarga yang sukses, bahagia dan makmur jasmani dan rohani
Sekarang giliran Anda : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya ……………………

? Langkah 6 : Nyatakan fakta yang tak bisa dipungkiri yang mendukung tujuan Anda
Contoh : Suatu fakta nyata bahwa banyak keluarga tak bahagia karena permasalahan yang mereka hadapi yang membutuhkan bantuan agar menjadi lebih baik
Sekarang giliran Anda : Suatu fakta nyata bahwa ………………………………..

? Langkah 7 : Inilah langkah penutup yang membangun logika baru untuk hidup Anda. Langkah ini membuat Anda telah menentukan suatu alur baru dalam kehidupan. Dan begitu sebuah alur baru dibuat dalam pikiran bawah sadar maka ia akan mewujudkannya. Tuliskan alur baru kehidupan Anda dengan mengikuti format berikut :
Jika : Saya memiliki keinginan terdalam untuk ………………(ambil pernyataan di Langkah 2)
Dan : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya …………. (ambil pernyataan di Langkah 5)
Dan : Adalah suatu fakta nyata bahwa ……………… (ambil pernyataan di Langkah 6)
Maka: Adalah sangat masuk akal jika ………………. (ambil pernyataan di Langkah 4)
Kesimpulan ……………………………………….

Jika menggunakan contoh di atas maka logikanya menjadi sebagai berikut :
Jika : Saya memiliki keinginan terdalam untuk membantu banyak keluarga menjadi lebih baik dengan apa yang saya alami dan pelajari
Dan : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya membuat sebuah pelatihan sistematis untuk mengajarkan bagaimana membangun keluarga yang sukses, bahagia dan makmur jasmani dan rohani
Dan : Adalah suatu fakta nyata bahwa banyak keluarga tak bahagia karena permasalahan yang mereka hadapi yang membutuhkan bantuan agar menjadi lebih baik
Maka: Adalah sangat masuk akal jika keluarga saya ingin saya bahagia dan mendukung saya mencapai impian saya
Kesimpulan : Saya memiliki apapun yang perlukan untuk mewujudkan impian saya termasuk juga keluarga yang mendukung penuh.

Mudah bukan? Saya harap semuanya menjadi sangat jelas karena saya berusaha menuliskan apa yang saya lakukan dalam sesi terapi dan konseling sedetail mungkin walaupun bahasa tubuh ketika saya menanyakan hal tersebut pada klien tak bisa saya gambarkan dengan detail. Namun saya percaya bahwa jika Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh maka Anda akan mencapai suatu pencerahan baru dalam satu bagian hidup Anda.

Terima kasih telah mengijinkan saya menjadi satu bagian dari kesuksesan, kebahagiaan dan kemakmuran hidup Anda. Saya ikut merasakan kebahagiaan Anda.
Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

Ariesandi S.

www.ariesandi.com

02 October 2008

What is The Greatest Power in Human Behaviour?

Sepasang suami istri duduk di ruangan saya dengan raut wajah yang tegang. Mereka telah menikah selama sembilan tahun dan hendak memutuskan untuk melakukan perceraian. Namun masih ada setetes embun di hati mereka yang membuat mereka menemui saya. “Jika tak mengingat dua anak yang menjadi tanggung jawab maka saya akan langsung putuskan untuk meninggalkan suami saya” demikian istrinya berkata pada saya.

“Sebenarnya adakah hal positif yang ada pada diri suami Anda?” tanya saya pada sang istri.
”Hmmm ….. ya sebenarnya dia itu sabar dan baik. Dia mengurus banyak hal tanpa pernah mengeluh. Satu-satunya hal yang sering dia keluhkan adalah kecerewetan saya. Namun dia seringkali menyinggung perasaan saya. Saya adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Saya sih tidak masalah dengan hal itu. Marilah kita sama-sama berbagi tugas sembari menunggu usahanya maju. Namun tindakannya yang menyinggung perasaan saya seringkali membuat saya muak dan benar-benar tak tahan. Dia tak pernah menghargai apa pun yang telah saya lakukan. Saya telah membanting tulang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bagaimanapun juga saya seorang wanita yang ingin merawat diri saya sendiri, ingin jalan-jalan ke mall dengan santai walaupun tak berbelanja, ataupun ingin bermanja-manja dengannya. Namun setelah semua pekerjaan yang telah saya lakukan saya tak pernah mendapatkan hal yang saya dambakan itu. Saya benci tidak bisa menjadi diri saya sendiri. Setiap kali dia meminta maaf maka saya akan memaafkannya. Namun kata-kata maaf itu seakan menjadi kata kunci untuk kesalahannya. Dia terus mengulanginya lagi. Sampai kapan saya tak tahu. Saya jenuh menunggu perubahan yang ia janjikan. Perubahan dirinya maupun perubahan kondisi finansial kami. Saya bosan dengan janji-janjinya! Lebih baik kami berpisah saja!”, demikian semua kalimat itu meluncur deras tanpa bisa dibendung.

”Oke saya mengerti perasaan Anda. Bagaimana dengan anak-anak?” tanya saya.
”Itulah satu hal yang memberatkan saya. Saya tidak ingin anak saya mengalami kejadian yang tak menyenangkan. Saya tak ingin anak-anak saya memiliki orangtua yang bercerai. Tapi saya sudah tak kuat lagi!”, katanya sambil menguraikan air mata.

Beberapa saat setelah ia mulai bisa menenangkan diri maka saya berbicara dengan suaminya.
”Apa yang bisa saya bantu?” tanya saya pada suaminya.
”Ya itulah saya ini bingung. Saya selama ini tidak melakukan hal-hal yang aneh. Saya tidak main perempuan, saya tidak berjudi, saya tidak pernah keluar dengan teman-teman saya, bahkan merokok saja pun saya tidak suka. Sehari-hari saya hanya mengurus anak-anak. Dari mulai memandikan, memberi makan, mengantarnya sekolah, menjemputnya, mengajaknya main, dan menemani belajar. Namun setelah itu semua saya lakukan yang saya dapatkan adalah sikap uring-uringan dari istri tanpa sebab yang jelas. Saya pun tak ingin menjalani kondisi finansial seperti ini. Namun apa mau dikata semua usaha yang saya lakukan belum membuahkan hasil seperti yang kami harapkan”, demikian kata suaminya dengan wajah memelas.

”Menurut Bapak apakah keluhan istri Anda yang mengatakan bahwa ia sering tersinggung dengan sikap Bapak itu benar?”, tanya saya berusaha mengklarifikasi data yang ada.
”Sejujurnya saya terkadang tak pernah merasa menyinggung perasaannya. Tapi jika meminta maaf bisa meredakan hal itu maka saya akan lakukan. Saya harus bagaimana lagi?”,sambungnya dengan nada masih memelas.

”Tapi sikapmu itu memang sering menyinggung perasaanku!”, tiba-tiba istrinya memotong dengan sikap sinis.
”Sebentar Ibu sabar dulu”, demikian saya berusaha menengahi mereka.

”Saya sudah sabar bertahun-tahun tanpa hasil. Sikapnya yang merasa tak bersalah inilah yang sering memicu saya untuk marah! Kondisi keuangan kami sudah memprihatinkan namun ia tak pernah melakukan usaha lebih keras demi kemajuan. Setelah mengantar anak sekolah ia pulang ke rumah dan tidur sampai siang!”, kata istrinya benar-benar seperti air bah yang tak bisa dibendung.

”Lalu saya harus melakukan apa. Semuanya kan tergantung pelanggan saya. Saya tak bisa memaksa mereka untuk melakukan pesanan jika mereka memang tak membutuhkannya, kan?”, kata suaminya berusaha membela diri.
”Baiklah mulai sekarang Anda berdua hanya boleh bicara jika saya tanya, oke?”, kata saya mengambil kendali situasi yang tak menentu tersebut.

Setelah melakukan wawancara dengan keduanya saya pun mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang bisa saya lakukan untuk membantu keduanya. Singkat cerita saya membantu mereka sebanyak tiga sesi terapi setelah menemukan akar masalahnya.

Permasalahan mereka sebenarnya adalah muatan emosi masa lalu yang terus dibawa-bawa. Muatan emosi negatif itu terpicu ketika seseorang melakukan hal yang mirip dengan pertama kali muatan emosi itu muncul dari sebuah pemaknaan.

Sang istri mudah sekali merasa tersinggung jika idenya ditolak. Bahkan untuk ide keluar makan malam yang ditolak pun ia bisa merasa tersinggung berat. Ia merasa harga dirinya direndahkan. Ia tahu bahwa marah tak menyelesaikan masalah. Namun setiap kali ia berusaha menahan rasa marahnya maka ia semakin ingin meledak. Dan akhirnya …….. meledak juga!

Hal ini bermula dari kejadian ketika sang istri, yang waktu itu masih seorang anak 5 tahun, disalahkan dan dimarahi oleh kakaknya. Rasa jengkel dan marah itu masih mengganjal dan dibawa terus sampai dewasa. Akibatnya ia mudah sekali merasa tersinggung. Jika dengan orang lain maka ia bisa menahan emosi negatif tersebut. Namun ketika sampai di rumah dan suami atau anak-anak . melakukan satu hal kecil saja yang bisa memicu memori tersebut maka tumpukan emosi negatif yang sudah menggunung tersebut akan langsung meledak tanpa ampun.

Ia tahu bahwa harusnya ia tak boleh seperti itu. Hal itu bisa merugikan perkembangan anak-anaknya. Namun keinginannya untuk berubah tak pernah kunjung kesampaian. Baginya perubahan itu terasa sangat sulit dan memakan waktu cukup lama.

Masalah yang dialami pasangan di atas adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang bisa kita jumpai sehari-hari. Banyak sekali pasangan yang datang meminta bantuan saya mengalami hal seperti itu. Muatan emosi negatif yang tak terselesaikan di masa kecil menjadi beban yang terus dibawa sampai di kehidupan dewasa.
Efek dari muatan emosi negatif tersebut bisa dirasakan di semua aspek kehidupan - aspek relasi dengan pasangan, relasi dengan anak, kondisi finansial, pekerjaan di kantor, bisnis dan bahkan kesehatan.

Di samping itu ada sebuah kekuatan / daya lain yang tak kalah kuatnya yang menyebabkan perubahan perilaku susah dilakukan. Daya ini adalah ”homeostasis”. Yes, the greatest power in human behaviour is homeostasis. Homeostasis adalah suatu daya yang berusaha mengembalikan kita pada kondisi semula. Jika kita bicara perilaku manusia maka daya ini adalah musuh nomor satu dari perubahan. Setiap orang yang ingin berubah dan setiap terapis yang membantu kliennya untuk berubah harus bisa menghadapi homeostasis.

Ini seperti anda menarik sebuah karet gelang. Ada sebuah daya yang kasat mata yang menahan gerakan anda untuk meregangkan karet gelang tersebut. Itulah perubahan. Setiap kali kita ingin berubah maka kita merasa tak nyaman. Kita ingin kembali ke kondisi semula.

Pernahkah anda menemui seseorang yang mengeluhkan rekan kantornya yang brengsek, sistem manajemen kantor yang tidak bagus dan atasan yang semena-mena? Namun ia tetap bekerja di sana sampai bertahun-tahun kemudian. Ia tak berani keluar dari zona tersebut. Baginya walaupun merasa tak nyaman namun satu hal yang sudah pasti : ketidaknyamanan tersebut sudah bisa diukurnya. Daripada menghadapi resiko ketidaknyamanan yang lebih parah di tempat baru maka lebih baik di tempat lama.

Itulah homeostasis. Daya ini sangat luar biasa. Bekerja di pikiran bawah sadar. Setiap keinginan sadar kita untuk berubah mendapat tantangan yang besar. Bagaimanapun juga ada satu alasan positif yang didapat jika kita tidak berubah. Karena alasan inilah maka homeostasis ada. Hanya saja ini tidak sinkron dengan keinginan sadar kita.

Tantangan setiap terapis adalah membantu kliennya menyinkronkan program pikiran bawah sadar dan pikiran sadar. Jika ini bisa dilakukan maka perubahan adalah hal yang sangat mudah.

Satu hal yang perlu diingat adalah homeostasis ada di setiap level pencapaian kita. Ketika kita keluar dari sebuah habit lama dan masuk ke habit baru maka segera setelah itu kita masuk dalam sebuah zona kenyamanan yang baru. Zona ini menjadi tantangan lagi bagi perbaikan lebih lanjut.

Pada anak-anak homeostasis ini tidak terlalu kuat. Semakin kecil usia seorang anak maka semakin lemahlah daya ini. Daya ini berkembang seiring dengam berkembangnya pikiran kritis seorang anak. Saat pikiran kritis berkembang maka setiap perubahan yang akan terjadi harus melalui inspeksi oleh pikiran kritis. Ini seperti saat kita diminta memasukkan barang bawaan kita ke mesin infra merah bila kita ingin check in di bandar udara.

Saat sesuatu bisa diterima pikiran kritis maka informasi untuk perubahan itu dituntun masuk ke memori jangka panjang dalam pikiran bawah sadar. Jika informasi tak sesuai atau bisa menyakitkan diri kita maka pikiran kritis akan menolaknya dan perubahan tak akan terjadi. Ingatlah bahwa perubahan ke arah yang baik pun memerlukan usaha dan ini bisa dipandang menyakitkan oleh pikiran bawah sadar yang selalu ingin berniat melindungi kita. Oleh karena itu homeostasis ini begitu kuat.

Salah satu cara mudah untuk mengatasinya adalah dengan bertanya pada diri kita sendiri ,”Seandainya ada hal yang lebih baik lagi bisa saya lakukan untuk ……………. (menjadi lebih sabar, menjadi lebih bisa memahami diri sendiri, mengerjakan pekerjaan saya lebih baik atau apapaun) bagaimanakah saya bisa melakukannya?” Pertanyaan ini akan menuntun kita mengalami perubahan kecil-kecil yang tak akan terasa menyakitkan sehingga lama-lama perubahan kecil ini pun akan menjadi besar. Ini adalah sebuah prinsip yang terkenal dengan sebutan kaizen di Jepang. Ya betul hal yang sama dialami oleh banyak perusahaan untuk mengajak para karyawannya berubah. Mengetahui rahasia menaklukkan homestasis akan mengakibatkan unjuk kerja tinggi.

Apakah ada cara lain? Tentu ada. Kita akan membahasnya bersama di artikel berikutnya.

Semoga inspirasi ini bisa mencerahkan para orangtua di seluruh Indonesia. Menurut Anda siapakah di antara rekan, sahabat atau sanak famili tercinta yang patut mendapatkan informasi tentang manfaat sekolahorangtua.com? Kapankah Anda bersedia mereferensikan sekolahorangtua.com pada mereka agar juga dapat memetik manfaat dari artikel-artikel sekolahorangtua.com demi peningkatan dirinya? Terima kasih atas kebaikan hati Anda mau menjadi sambungan tangan saya untuk menyentuh hidup lebih banyak keluarga di Indonesia.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

Ariesandi (www.sekolahorangtua.com)

2 Syawal 1429H, Pukul 06.10

Masih Di Gresik

Fil Bait Abi

Rosulullah Tidak Ingin Kita Kalah Lagi

Rahasia 1 Syawal

dakwatuna.com - Dengan datangnya 1 Syawal, otomatis bulan Ramadhan telah pergi. Pergi meninggalkan kita, untuk kemudian datang lagi di tahun yang akan datang. Kita tidak tahu apakah kelak akan bertemu lagi dengan Ramadhan, atau ternyata ini adalah Ramadhan yang terakhir. Banyak suadara kita yang sebenarnya ingin menikmati Ramadhan tahun ini, tetapi ternyata ajal segera menjemptnya beberapa detik sebelum memasukinya. Karenanya kita sangat bersyukur bahwa Allah swt. telah memberikan kesempatan kepada kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun ini.

Benar 1 Syawal telah tiba. Dan kita tidak serta merta gembira, karena di saat yang sama kita harus berpisah dengan Ramadhan. Perpisahan yang sangat mengharukan. Bayangkan selama Ramadhan kita telah mendapatkan suasana yang dalam, di mana kita dihantarkan kepada nuansa ketaatan yang tak terhingga. Nafsu yang selama ini diagungkan manusia, ternyata dengan Ramadhan, nafsu ini tidak berdaya. Setan yang selama ini sangat kuat menguasai manusia, ternyata dengan Ramadhan tersingkirkan. Kita bisa setiap saat membaca Al Qur’an selama Ramadhan, di mana di luar Ramadhan itu sangat sulit kita lakukan. Di malam hari kita selalu bangun sebelum fajar dan shalat subuh berjamaah di masjid, padahal itu sangat sedikit yang melakukannya di luar Ramadhan. Pun tangan kita terasa ringan berinfak selama Ramadhan, sementara di luar Ramadhan itu sangat berat dilakukan. Lebih jauh, kita bisa beri’tikaf -atau minimal selalu di masjid sepanjang malam- terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan, dan kita tahu bahwa itu sangat jarang dapat kita lakukan di luar Ramadhan.

Berpisah dengan Ramadhan memang tidak dapat dibandingkan dengan perpisahan yang lain. Berpisah dengan Ramadhan adalah perpisahan dengan suasana ruhani yang sangat kental dan menguatkan iman. Itulah yang membuat airmata harus menetes. Menetes bukan karena kesedihan murahan, yang datang dari sentuhan emosional belaka. Melainkan menetes kerena kesedihan yang memancar dari gelora iman. Menetes karena takut bila setelah Ramadhan suasana keimanan itu melemah kembali tergerogoti dosa-dosa. Takut kalau lidah kita ini berat kembali bertasbih dan membaca Al Qur’an. Takut kalau malam-malam kita kembali diwarnai tawa dan hiburan yang melalaikan. Takut kalau hati ini kembali keras dan sulit menerima sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Karena itu kita berdoa, semoga kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun yang akan datang.

Tapi apapun, tanggal 1 Syawal telah datang. Kita harus menerima kenyataan. Hari Raya adalah hari kegembiraan bagi setiap yang beriman. Gembira karena telah berhasil melepaskan dosa-dosa selama Ramadhan. Gembira karena telah menang terhadap setan dan hawa nafsu. Karena itu kegembiraan ini jangan disambut dengan gelora nafsu belaka. Ingat bahwa setan seringkali masuk melalui nafsu makan. Karena itu, bila nafsu makan dibuka, setan selalu menang menguasai manusia. Oleh sebab itu, begitu Ramadhan pergi, pemandangan durjana seringkali begitu mudah bermunculan. Allah swt. dalam surah An Nashr mengingatkan, bahwa kemenangan tidak pantas disambut dengan tawa dan nafsu. Kemenangan harus disambut dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar. Benar kita harus menyebut kemenagan fitri ini dengan tasbih tahmid, tahlil dan istighfar. Dengarkan Allah berfirman: fasabbih bihamdika rabbika wastaggfir, innahuua kaana tawwabaa.

Oleh karena itu, 1 Syawal bukan hari pembebasan sebebas-bebasnya. Melainkan hari pertama kita mulai terjun ke medan pertarungan melawan hawa nafsu dan setan, seteleh sebulan penuh kita berbekal iman dan kekuatan ruhani. Karena itu kita harus menang. Kita harus kendalikan nafsu itu ke arah yang positif, bukan malah dikendalikan nafsu ke arah yang buruk. Kita harus bergegas dalam kebaikan-kebaikan seperti kita dalam suasana Ramadhan. Bila kita kalah berarti perbekalan kita selama Ramadhan tidak maksimal. Tidak sungguh - sungguh. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita seiman, yang langsung KO justru pada tanggal 1 Syawal. Artinya, begitu mereka masuk bulan Syawal seketika itu mereka terperosok dalam gelimang dosa.

Nabi saw. tidak ingin kita kalah lagi. Itulah rahasia mengapa kita disunnahkan menambah puasa lagi minimal 6 hari di antara bulan Syawal. Nabi bersabda: bahwa siapa yang menambah puasa 6 hari di bulan Syawal, ia akan mendapatkan pahala puasa setahun, seperti pahala puasa yang didapat umat-umat terdahulu. Mengapa puasa Syawal? Ini suatau isyarat bahwa kita harus terus mempertahnkan diri seperti dalam suasana Ramadhan. Suasana di mana kita tetap dekat kepada Allah swt. Sebab seorang yang menahan nafsunya, tidak akan didekati setan. Bila setan menjauh maka malaikat mendekatinya. Bila malaikat mendekatinya otomatis ia akan semakin dekat kepada Allah. Ingat bahwa seorang yang dekat kepada Allah, ia akan mendapat keutamaan yang luar biasa: tidak saja doa-nya mustajab, melainkan lebih dari itu ia akan dijauhkan dari rasa sedih dan galau. Allah befirman: “alaa inna awliyaa Allahi laa khawfun ‘alaihim walaa hum yahazanuun (ketahuilah bahwa orang-orang yang dekat kepada Allah mereka tidak akan mendapatkan rasa takut atau kekhawatiran dan tidak akan pernah dirundung kesedihan).”

Terakhir, pada 1 Syawal kali ini marilah kita sama-sama membuka hati, buang jauh segala penyakit dengki dan hasud di hati, bersihkan jiwa kita dari berbagai beban penyakit, sayangi diri kita dengan meningkatkan iman bukan dengan memanjakan diri dalam dosa-dosa. Mari kira saling mengucapakan: Selamat hari raya, taqabbalahhu minnaa waminkum shaalihal a’maali, wa kullu ‘aamin wa antum bikhairin (semoga Allah menerima amal-amal baik kita, dan semoga dalam semua hari-hari sepanjang tahun kita selalu dalam kebaikan). Amin. Wallahu a’lam bishshowab.


2 Syawal 1429H, Pukul 06.00 Pagi

Masih Di Gresik

Fil Bait Abi

Biarkan Hadiah Bicara

oleh Muhamad Nuh
dakwatuna.com - “Sambunglah orang yang memutus silaturahim denganmu. Berilah hadiah kepada orang yang enggan memberimu. Dan jangan hiraukan orang yang menzalimi kamu.” (HR. Ahmad)

Jangan biarkan kebencian berkelanjutan

Selalu saja ada sisi positif dan negatif sebuah interaksi. Positif ketika interaksi memunculkan rasa cinta dan sayang, kuatnya persaudaraan, tolong menolong sesama mukmin. Dan negatif, saat interaksi meletupkan bunga-bunga api kekecewaan. Kebencian pun tak terelakkan.

Kebencian karena persoalan teknis semisal salah paham, emosi dadakan, mestinya hanya bertahan beberapa hari. Karena prinsipnya setiap mukmin punya satu ikatan: akidah Islam. Sehingga persoalan teknis di lapangan bisa cair sendiri bersama waktu dan kesibukan. Setelah itu, muncul lagi kerinduan.

Namun, begitulah setan. Emosi yang labil menjadi alat efektif pintu setan untuk mengobrak-abrik persaudaraan. Sesama mukmin menjadi marahan. Bahkan, pada dosis tertentu, marahan bisa diwariskan ke anak cucu. Na’udzubillah. Rasulullah saw. bersabda, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)

Putus persaudaran bukan hanya dilakoni para pelaku. Tapi, bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Suatu hal yang mestinya tidak mungkin terjadi dalam diri seorang mukmin.

Siram api dengan air, bukan dengan api

Jika marah diibaratkan sebagai api, maka airlah yang paling cocok agar api segera padam. Tidak mungkin api akan padam dengan api. Dan air adalah perumpamaan yang pas buat silaturahim.

Sekeras apa pun sebuah kebencian, boleh jadi rapuh dengan beberapa celah kasih sayang dan sentuhan persaudaraan. Orang yang diumbar marah dan benci sebenarnya sangat membutuhkan perhatian. Tidak jarang, kebencian bisa luluh hanya dengan perhatian dan sapaan yang tulus.

Banyak kisah menarik di masa Rasulullah saw. tentang hal itu. Abu Sufyan mungkin orang yang paling sadis permusuhannya dengan Rasul. Siang malam, dia mengatur siasat bagaimana menghancurkan Rasulullah dan umat Islam. Tapi, justru Abu Sufyanlah yang paling mendapat kehormatan dari Rasul ketika Mekah diambang penaklukan. “Siapa yang masuk ke masjidil haram mendapat keamanan. Dan siapa yang berkumpul di rumah Abu Sufyan, juga mendapat keamanan.” Begitulah kira-kira pengumuman Rasul kala itu.

Bayangkan, seperti apa hati Abu Sufyan mendengar itu. Bingung, takjub, dan akhirnya luluh seratus persen. Dia pun berbalik menjadi orang yang siap membela perjuangan Rasulullah saw. di Mekah dan sekitarnya. Sungguh sebuah cara meluluhkan kebencian yang paling efektif tanpa menimbulkan kebencian baru.

Hadiah sebagai pelunak kekakuan

Ketika kles terjadi, yang mendominasi diri setelah itu adalah ego. Diri merasa paling benar, paling mampu, dan sebagainya. Kekakuan pun muncul begitu saja. Seolah, dalam dirinya cuma ada ego; tidak ada nalar, empati, apalagi kasih sayang sesama saudara seiman.

Jika tidak ada inisiatif mencari jalan damai, kekakuan terus berlanjut. Bahkan, bisa terwariskan ke anak cucu.

Sebenarnya, ada ruang-ruang dalam diri yang sejalan dengan waktu membutuhkan perhatian, kasih sayang, kerinduan. Terlebih sesama mukmin. Baik buruk sebuah hubungan persaudaraan bisa berbanding lurus dengan tingkat keimanan. Semakin kuat cahaya iman bersinar, rasa kasih sayang mulai mengganti ego dan benci. Lahirnya keharmonisan cuma tinggal menunggu momentum. Dan hadiah merupakan alat efektif menumbuhkan momentum itu.

Rasulullah saw. bersabda, “Hendaknya kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian.” (HR. Attirmidzi dan Ahmad)

Selalu pada komunikasi

Bisa dibilang, sebagian besar sebab munculnya kebencian karena salah menafsirkan sebuah ucapan. Atau, sebab molornya perseteruan karena tertutupnya peluang berkomunikasi.

Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan seseorang mengungkapkan maksud baik. Plus, tidaksanggupan pihak lain menahan diri membuat kesimpulan negatif. Ketidakmampuan mengutarakan maksud dan sifat reaktif di pihak lain menjadi perkara paling rawan munculnya kles.

Dengan begitu, saling membuka komunikasi adalah langkah paling tepat memperbaiki ketidakharmonisan. Dan itu akan berjalan efektif jika dua belah pihak siap saling mendengarkan. Sulit memunculkan keadaan saling pengertian seperti itu jika tidak dikondisikan dengan situasi yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Dan silaturahim adalah cara yang paling pas.

Kasus Hathib bin Abi Balta’ah di masa Rasul bisa menjadi pelajaran. Para sahabat termasuk Rasulullah saw. kaget ketika tahu siapa pembocor rahasia penyerangan ke Mekah. Orang itu bernama Hathib. Kontan saja, Umar bin Khattab minta izin ke Rasul agar bisa menghukum Hathib. Tapi Rasul menolak. Beliau saw. meminta sahabat memanggil Hathib.

Penjelasan pun disampaikan Hathib. Sahabat yang masih punya keluarga di Mekah ini pun mengungkapkan keterpaksaannya demi keselamatan keluarga di sana. Itu saja. Tidak ada maksud membocorkan rahasia ke tangan musuh. Akhirnya, Rasul memaafkan Hathib.

Harus ada prakarsa agar kebencian tidak berlanjut. Dan yang terbaik adalah mereka yang lebih dulu mengawali kunjungan. Indahnya sebuah nasihat Rasullah saw., “Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. Dan yang terbaik, yang pertama memberi salam (menyapa).” (HR. Al-Bukhari)


2 Syawal 1429H
Masih Di Gresik
Pukul 5.40 Pagi
Fil Bait Abi