26 June 2007

Komunitas Tarbawi,Komunitas Terjaga [1]

Suatu ketika, seorang bapak curhat kepada teman saya.materi curhat pada saat itu cukup berat, hingga sang bapak ini menangis sambil mencurahkan isi hati dan pikirannya.
Bahkan sayapun yang mengetahui isi curhat sang bapak yang terhormat ini ikut trenyuh,rasanya hati saya dipenuhi dengan batu gunung seberat ratusan ton.
Sang bapak yang hanif ini bercerita bahwa beberapa hari sebelum curhat,anak gadisnya yang udah masuk usia SMU,diajak tidur oleh teman laki-laki sekelasnya.Beliau bercerita sambil menangis,menangisi keberhasilan anak gadisnya menolak ajakan tidur teman laki,menangisi nasib gadis-gadis lainnya yang 'tidak mampu' menolak ajakan tidur,bukan ajakan nikah.Menangisi realitas pergaulan para remaja abad 21 ini.Menangisi keberanian para remaja atas kesepakatannya melakukan perbuatan yang membuat 4JJI SWT murka,tapi membuat iblis tertawa terbahak-bahak.
Teman,itulah realita kehidupan saat ini.Bapak yang budiman tadi,melanjutkan menangis dirumah bersama istrinya.Masih beruntung anak gadisnya masih mau komunikasi 2arah dengan kedua orang tuanya yang sangat menyayanginya.
Saya pribadi merasakan hancurnya hati ketika mendengar fenomena gunung es ini.Saya yakin banyak cerita serupa yang tidak pernah terkuak,baik karena kesepakatan maupun karena paksaan.
Fenomena diatas hanya bisa diatasi jika masing-masing individu memahami konsep tarbawi dan konsep haroki, karena itulah sebenarnya tugas setiap manusia muslim selama hidup di dunia.
Konsep tarbawi terkait dengan kewajiban belajar hingga mati,dimana fokus belajar adalah agar kita mampu menjaga seluruh indra dan aurat kita dari segala keburukan,maksiat.di lain sisi kita mampu mendorong diri kita untuk selalu berbuat baik kepada diri kita dan orang lain.
Konsep haroki terkait dengan kewajiban kita untuk menyampaikan kebenaran kepada orang lain.Jangan lupa,ada kewajiban besar yang diberikan 4JJI dan Rosul-Nya kepada kita untuk mengajak orang lain berbuat baik dan mencegahnya untuk berbuat kerusakan.
Konsep haroki sangat tergantung dari keberhasilan konsep terbawi,karena tidaklah mungkin kita mampu menjadi pemberi infaq jika kita tidak mempunyai harta.Tidaklah mungkin kita menjadi tenaga penggerak yang mampu memberikan pencerahan kebaikan jika kita tidak mempunyai bekal hasil belajar,yang telah mampu mengajak diri sendiri untuk berbuat baik.Kita harus mampu menjaga diri kita,lalu memasuki komunitas yang terjaga dan akhirnya kita mampu menggerakkan orang lain agar ikut dalam komunitas terjaga.
Akhirul kalam, tentunya harapan besar bagi komunitas terjaga yang saling 'menjaga' ini, agar mampu mengurangi panjang,lebar dan tinggi dari fenomena gunung es pergaulan bebas para remaja. Tugas besar ini bukan hanya ada di pundak komunitas ini, tapi semua pihak seperti pihak sekolah,orang tua dan para pengambil keputusan di kota/kabupaten juga bertanggung jawab dihadapan 4JJI SWT,jika ternyata ada yang menghalangi atau membiarkan fenomena ini bertambah besar volumenya.
Wallauhu a'lam Bishowab
Hadanallah Wa iyyakum Ajmain

No comments: