29 June 2007

Komunitas Tarbawi,Komunitas Terjaga [2]

Andaikan Kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak memberi contoh dalam pembentukan komunitas tarbawi ini,tidaklah mungkin para muassis dakwah menggunakan cara ini.
Kita ingat bagaimana seorang yang telah beberapa kali membunuh anak kandungnya sendiri,ternyata mendapatkan hidayah ketika mendengar lantunan tilawah ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibaca oleh adik perempuannya.Beliau adalah Umar Bin Khottob.ra.Kisah ini membuktikan bahwa komunitas tarbawi yang Created by Panglima Dakwah kita Muhammad SAW telah mampu membentuk pribadi-pribadi yang mampu menjaga diri dengan Al-Qur'an,dengan tilawah dan tadabbur, dan ternyata pribadi-pribadi ini pula yang mampu menjadi jalan datangnya hidayah dari Robbul Izzati.
Pada Saat itu, Rosulullah SAW masih memberikan konsep tarbawi,dan masing-masing sahabat yang telah mendapat hidayah baru mendapat tugas 'Ngaji' bersama Kanjeng Nabi SAW,itu artinya konsep dakwah saat itu masih Bi Sirri. Belum ada penugasan dakwah terang-terangan.
Disini tampak jelas bahwa pembentukan komunitas tarbawi tidak lain dan tidak bukan adalah awal dari suatu proses tandzhimi, karena kontinyuitas ngaji pada fase awal hanya untuk membentuk individu mandiri dalam menjaga diri.Individu yang mampu mengaktualisasikan dirinya 24 jam kepada islam.Namun, saat itu kondisi para sahabat masih belum diperintahkan melangkah ke konsep haroki,konsep pergerakan, yaitu fase selanjutnya setelah fase 'hanya ngaji'.
Nah......Jika kita mau mengikuti sunnah fase awal dakwah islam ini, insya4JJI untuk merintis komunitas 'khoiru ummah' tidaklah terlampau sulit. Walaupun hampir 90% media yang kita temui tiap hari adalah kepanjangan mulut dan tangan dari musuh yang menjadikan komunitas tarbawi adalah tembok besar yang mengancam dan menghalangi kerja mereka.
Yang perlu diingat, al-Mustamiro adalah kunci dari Fase ini, kontinyuitas adalah parameter kunci, karena terbukti ada beberapa murid yang gugur pada fase ini hanya karena tidak konsist dengan parameter ini. Hanya dengan Ngaji secara kontinyu maka setiap pribadi mampu menerima konsep islam secara Syumul.
Siapapun kita, kewajiban mempelajari Ilmu Islam adalah suatu keniscayaan,dan jangan lupa, akan ada pertanggung jawaban tentang ini besok.
Hadanallah Wa Iyyakum Ajma'in

No comments: