16 August 2007

Merenung lagi: Tentang Loyalitas

Gemuruh peringatan HUT Kemerdekaan indonesia semakin menggema.Namun ada yang selalu mengganjal di hati dan pikiran saya setiap kali perayaan ini, walaupun udah lebih dari 60 kali dirayakan, kemerdekaan ini belum mampu memberikan jaminan kelayakan hidup untuk WNI.
Pada perayaan kali ini, ada hal baru yang muncul dipikiran saya.Setiap tahun, saya merasakan peringatan pesta rakyat dikampung-kampung bertambah ramai, bukan bertambah sepi.Namun tidak ada kreatifitas baru, baik dalam hal lomba-lombanya maupun kegiatan lainnya.
Jika diamati lebih dalam, secara sistematis perayaan tanpa esensi yang nyata ini telah dibikin agar bangsa indonesia merasa cukup dengan perayaan kemerdekaan ini, tanpa mampu bangun untuk sadar bahwa grand desain musuh-musuh bangsa, baik itu bangsa asing maupun WNI yang menggadaikan akidah dan nasionalitasnya, telah mengobok-obok sendi-sendi kekuatan sebuah bangsa indonesia.
Disini, loyalitas kembali menentukan bagaimana sebuah bangsa mampu bertahan tanpa takut ancaman dan gertakan musuh-musuh bangsa.
Jika kita mau jujur, loyalitas berbangsa dan bernegara hanya bisa dimulai dengan loyalitas kita kepada Dzat Yang Maha Agung,Maha Perkasa.
Loyalitas kepada Robbul Izzati adalah loyalitas tertinggi seorang muslim, karena sesungguhnya tidak pernah ada ajaran islam yang mengajak untuk menghancurkan dan mendukung kerusakan di muka bumi. Loyalitas kedua adalah loyalitas kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw,dan Akidah adalah kesimpulan dari 2 arah loyalitas diatas.Tanpa adanya akidah islam yang mantap, tidaklah mungkin ada warga negara yang mampu menahan godaan musuh bangsa yang sebenarnya sedang mengajak perang kepada kedaulatan negeri kita.
Siapapun anda, jika belum sadar tentang esensi perang ini, kami akan mengajak anda berpikir tentang masa depan, karena setiap pengkhianat sesungguhnya tidaklah mempunyai masa depan. Perang yang tidak anda sadari sedang terjadi, Indonesia vs Musuh ,dan pengkhianat bangsa adalah kepanjangan tangan dari musuh.Merekalah ini yang selama 62 tahun lebih telah menjalankan agenda grand desain bangsa penjajah untuk mengacak ketenangan Rakyat RI, sehingga ketenangan hidup WNI di Indonesia selalu terusik.
Lagi-lagi saya membawa kasus harga beras dan bahan pokok lainnya yang tidak pernah stabil. Padahal negeri ini adalah negeri yang subur,kok harga beras saja tidak bisa stabil.Tidak stabilnya harga beras dan bahan pokok lainnya,secara langsung akan mengganggu kestabilan ekonomi negara. Disaat ekonomi negara kacau, tawaran dari musuh mulai masuk dengan syarat tunduk atas kemauan penjajah.
Sampai peringatan ke 62 ini, saya belum merasakan kemerdakaan bisa dirasakan oleh rakyat, kalo sekedar merayakan memang setiap tahun,tapi jangan pernah menyebut kita udah merdeka.Penjajah bangsa ini sengaja membiarkan kita terlena agar tidak lagi berpikir nasionalisme, hanya mementingkan perutnya sendiri.
Pada Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke 62 ini, saya ingin menyampaikan beberapa patah kata : "Saudaraku tercinta, Perjuangan masih panjang, tanpa adanya komitmen untuk menjunjung tinggi akidah islam, tidaklah mungkin loyalitas terhadap bangsa dan negara Indonesia bisa tertanam di hati dan pikiran warga negara.Kepada anda yang hingga saat ini masih menukar jutaan rupiah dengan informasi bangsa anda sendiri, ketahuilah bahwa 4JJI SWT Maha Pengampun.Segeralah memohon ampun kepada 4JJI SWT,dan tunjukkan bahwa anda bukan lagi antek-antek Asing [ ZIONIS ] dengan memberikan koontribusi positif kepada Islam, kepada bangsa dan negara tercinta,Republik INDONESIA. Atau anda akan menyesal, karena 4JJI SWT tidak mungkin membiarkan anda bertemu dengan kondisi bahagia,kamipun tidak akan tinggal diam atas apa yang anda lakukan,kami tidak mungkin membiarkan siapapun menjual negara kami, kami akan memberikan pelajaran hingga kalian akan menyesal seumur hidup anda.Anda tidak lain adalah musuh kami,musuh islam,musuh bangsa indonesia dan kami bukanlah pengkhianat bangsa".

Hadanallah Wa iyyakum Ajma'in

No comments: