
Ketika membaca beberapa biografi pejuang islam, Pejuang yang benar-benar berjuang untuk kejayaan islam, ada beberapa yang secara mencolok mempunyai ghiroh tinggi terhadap pembelaan islam. Jika kita meneliti lebih dalam, ternyata mereka rata-rata udah hafal alqur'an mumtaz 30 juz sejak kecil sebelum umur baligh. Sepintas hal ini mungkin kita anggap biasa, atau mungkin kita menganggap itu suatu kebetulan.
Pada saat membaca biografi tokoh pendidikan mesir Sayyid Qutb, ada hal menarik yang menjadi salah satu sebab seorang sayyid qutb mampu menghafal 30 juz sebelum umur 12 tahun. Seorang ibu yang berazzam untuk mengantarkan sayyid qutb menggapai Al-Hafidz. Peran besar seorang ibu, atau orang tua sangat dibutuhkan karena pada umur yang masih hijau seperti itu belum ada kesadaran dari dalam tentang pentingnya menghafal Alqur'an.
Masih ada beberapa orang [ mungkin banyak] yang merasa tidaklah penting seorang anak bisa hafal Alqur'an. Sangat banyak kesadaran akan hafal alqur'an justru muncul pada umur baligh, ketika beban hidup dan pikiran udah penuh.Mungkin termasuk dari kita sendiri yang mempunyai kesadaran seperti itu.
Insya4JJ tidak cuma seorang sayyid qutb, Ulama selevel imam syafi'i yang hafal Alqur'an pada umur 6 tahun juga tidak lepas dari peran orang tua yang memberikan fasilitas,waktu dan segenap kemampuannya agar anaknya mampu menghafal pada usia sedini itu.
Jika kita mempunyai keinginan untuk mempunyai pohon yang rindang, akarnya kuat dan buahnya tidak berhenti sepanjang tahun bahkan mungkin seumur hidup kita, ini mungkin salah satu pilihan. Apalagi dengan melihat kondisi lingkungan, media cetak dan elektronik yang sangat merusak fikroh anak-anak kita, mungkin mengantarkan anak kita menuju al-hafidz adalah pilihan terbaik.
Terbaik karena selain bisa hafal 30 juz Al-qur'an sebelum lewat umur 12, anak-anak kita juga mendapatkan lingkungan islami, gaya hidup islam dan fikroh islami.
Saya teringat kondisi di suatu Ma'had Tahfidz Al-Qur'an di jawa tengah yang cukup bagus dalam mencetak SDM islami. Setiap Pagi buta pukul 03.30 seluruh murid dan ustadz udah bangun dan langsung sibuk dengan kegiatan masing-masing.Setiap murid akan mandi lalu sholat malam dan dilanjutkan dengan muroja'ah hafalannya,hingga waktu shubuh. Ba'da Shubuh adalah waktu untuk setoran hafalan. Setiap murid akan menyetorkan hafalannya sesuai levelnya.Perlu diketahui, di ma'had ini dalam sehari ada 3 kali setoran hafalan.
Subhanallah, waktu hidup anak-anak ini dihabiskan dengan aktifitas yang sangat berkualitas, aktifitas yang mampu membantu mereka saat kondisi lingkungan tempat hidup mereka kelak jauh dari islam. Kita ingat seorang sayyid qutb yang kuliah di 3 tempat di amerika, negeri pusat pornografi,negeri pusat kapitalisme dan liberalisme, negeri tempat pusat kontrol zionisme internasional. Sayyid qutb mempunyai kemampuan surviving with islam di negeri yang mendewakan Samiri tersebut. Bahkan ketika pulang ke mesir, kondisi keimanan beliau terbukti masih kuat.
Berita Syahidnya Imam Hasan Al-Banna di tangan militer inggris membuatnya berpikir lebih keras tentang siapa kawan siapa lawan. Berita Syahidnya Al-Banna dirayakan dengan pesta besar-besaran oleh inggris dan amerika pada saat itu. Begitu juga media cetak mesir pro inggris, mereka merayakan keberhasilan membunuh Al-Banna sebagai sebuah prestasi besar.
Sayyid qutb melihat ini sebagai tanda, momentum untuk bergerak, karena mungkin sebelumnya beliau belum banyak tahu tentang Jammaah Ikhwan. Momentum ini dijadikan tonggak oleh beliau yang telah dibekali oleh orang tuanya dengan Al-Qur'an 30 juz.Tampak jelas sudah siapa musuh islam pada saat itu, yaitu mereka yang berpesta saat pemimpin jammaah dakwah ditembak mati oleh militer inggris.
Sayyid qutb memilih bergabung dengan jammaah ini, karena keyakinan bahwa berjuang berjammaah lebih baik daripada berjuang sendirian. Sayyid qutb yang sebelumnya sudah sangat kagum dengan konsep ikhwan yang dibawa Al-Banna semakin yakin tentang kewajiban berdakwah untuk setiap individu muslim/muslimah.
Tidak seperti jatuhnya air hujan, hidayah harus diusahakan.
Tidak seperti jatuhnya air hujan, orang tua harus mengarahkan anak-nya
Tidak seperti jatuhnya air hujan, imanpun tidak dapat diwariskan
Hadanallah Wa Iyyakum Ajma'in
14.16
16 Ramadhan 1429
16 September 2008
On Kantor
No comments:
Post a Comment